简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Dolar Kuat Terdorong Status Safe Haven Seiring Panasnya Isu Timur Tengah
Ikhtisar:Pasar forex mencatatkan penguatan Dolar AS yang didorong oleh tingginya permintaan aset *safe haven* akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, ekspektasi kebijakan suku bunga dari bank sentral global seperti The Fed, RBA, dan BoJ turut menjadi pendorong utama arus pergerakan mata uang dunia.

Dolar AS (USD) kembali menunjukkan dominasinya terhadap sejumlah mata uang utama berkat meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven). Penguatan tak lepas timbulnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah, menyusul rencana Amerika Serikat untuk mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran akibat perundingan yang buntu. Kondisi ini turut melambungkan harga minyak mentah WTI mendekati level $102,50 per barel karena takutnya pasar akan penutupan Selat Hormuz berlarut-larut.
Dari sisi ekonomi Amerika Serikat, rilis data menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi tantangan yang belum selesai. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Inti AS secara tahunan dilaporkan naik 3,2%, sejalan dengan proyeksi pasar. Mengingat laju pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama yang membaik ke level 2,0%, Federal Reserve diperkirakan masih memiliki alasan kuat untuk mempertahankan suku bunga utamanya di kisaran 3,50% hingga 3,75% guna meredam harga secara tuntas.
Di sudut lain, Dolar Australia justru mampu memperlihatkan sedikit ketahanan di tengah kokohnya greenback. Pasangan mata uang AUD/USD terpantau bergerak di sekitar area 0,7200. Dukungan terkuat dari pergerakan ini lahir berkat antisipasi mayoritas pasar yang memperkirakan bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,35% merespons tekanan harga domestik mereka.
Di kawasan Asia, nilai tukar Yen kian berada di bawah bayang-bayang tekanan dan membawa pasangan USD/JPY bertengger pada kisaran 157,25. Pelemahan mendasar ini terjadi pasca rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) kawasan Tokyo yang menukik ke tingkat 1,5%. Kombinasi dari melunaknya inflasi ibu kota serta tekanan pasokan energi memaksa pelaku pasar untuk terus menjaga tingkat kewaspadaan terhadap ancaman intervensi mata uang yang bisa sewaktu-waktu dilakukan oleh otoritas moneter Jepang.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
